<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="FeedCreator 1.7.2" -->
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
    <channel>
        <atom:link href="http://mysholichin.yolasite.com/library/library.rss" rel="self" type="application/rss+xml" />
        <title>library</title>
        <description>library</description>
        <link>http://mysholichin.yolasite.com/library/library.php</link>
        <lastBuildDate>Fri, 23 Oct 2026 23:09:02 +0100</lastBuildDate>
        <generator>FeedCreator 1.7.2</generator>
        <item>
            <title>Guru Muda Karsono</title>
            <link>http://mysholichin.yolasite.com/library/library/guru-muda-karsono</link>
            <description>&lt;DIV class=entry&gt; 
&lt;P&gt;Kini aku menyesal tidak berhenti di warung untuk sarapan. Seluruh tubuhku gemetar. Orang itu dengan mudah memasukkan ke dalam kantungnya SIM dan STNKku. Lalu menyuruhku minggir untuk menggosok nomor-nomor di plat motorku supaya menampakkan warna dasarnya. Sesuatu yang bagiku tidak berada di dalam akal.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Ini tidak benar. Mesti ada yang mengatakan padaku isi pasal-pasal yang akan ditulis. Mesti ada perbedaan antara melanggar dan… dan menemui hal-hal begini lagi, aku merasa bodoh tidak mencari tahu isi pasal-pasal pelanggaran dan lebih memilih menaati ketentuan secara buta. Ya, mesti ada yang mengatakan padaku: plat nomor ini kategori pelanggaran yang bagaimana? Tahu keadaannya begini, aku ambil jalan lain saja ketika seorang pengendara dari arah berlawanan mengatakan ‘&lt;EM&gt;operasi&lt;/EM&gt;’. Dua pengendara di depanku memutar motornya sebelum sampai di tikungan.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Tidak ingin timbul kesan sebagai seorang pendebat, aku kerjakan perintah orang itu. Aku gosok nomor-nomor itu dengan pinggiran mata uang 100. Kulakukan itu sambil jongkok. Aku tidak ingin orang lain melihat, bahwa jika berdiri kedua kakiku gemetaran. Bagaimana pun juga aku berusaha patuh dalam berkendara. Lagipula aku ingin menghindari rasa gugup dan sesal yang mungkin dibawakan surat bukti berwarna merah. Aku seperti, sebagaimana pernah dikatakan, gejala pasif dari lalu lintas yang berperan sebagai objek. Celakanya, kebanyakan di antara kita, di negeri ini, sering dilupakan hak-haknya di hadapan orang-orang seperti ini dan dalam urusan-urusan sepele seperti ini. Tentu saja tetap ada kesalahan ketika berkendara. Beberapa lubang kecil di SIMku mungkin mengingatkan orang itu. Tapi ketika tidak ada kesalahan dan semua standartisasi berkendara terlengkapi, kenapa aku justru merasakan ketakutan yang tidak semestinya?&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Seorang pemuda berpakaian sekolah abu-abu meminggirkan motornya dan menghampiriku. Setelah menanyakan ini itu, dia tawarkan dirinya untuk menggosok nomor-nomor itu. Aku terima tawarannya. Entah. Tanpa sarapan, sepertinya terlalu sedikit tenaga yang tersisa dari jam mengajar pagi untuk hal begini.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Diam-diam aku perhatikan bet di lengan pemuda itu. Kemudian aku ingat-ingat wajahnya. Sudah kuduga. Rupanya dia salah satu muridku. Mengetahui ini, kujaga benar supaya suara yang keluar dari mulutku tidak mengandung getaran: gugup dan ketakutan.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Lalu dia mengatakan padaku untuk melapor pada orang itu. Kukatakan padanya bahwa sudah kulakukan perintahnya. Dia berjalan menuju motorku, di mana seorang pemuda mengenakan seragam abu-abu tengah menggosok-nggosok plat nomor –eh, dari gerakannya aku tahu itu dibuat-buat.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Muridku mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan. Yaitu mengerik warna nomor-nomor itu supaya terlihat warna dasarnya di sini. Orang itu bertanya padanya siapa dia. Mungkin karena ingat bahwa aku berkendara seorang diri, atau dia melihat gerakan yang dibuat-buat oleh muridku dan merasa jengkel –tambah lagi bukan aku yang menyatakannya. Segera kuberitahu bahwa pemuda itu ialah salah satu muridku.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Akhirnya orang itu memberikan SIM dan STNKku dan membolehkan aku pergi tanpa surat tilang. Apakah statusku sebagai seorang guru yang menyelamatkan aku; mungkin tadi dia memandangku sebagai lepasan pemuda tanggung biasa, tapi setelah mengetahui bahwa aku ialah seorang guru maka dia membolehkan aku pergi tanpa surat tilang? Atau aku memang tidak pantas untuk ditilang? Cuma pantas diperingatkan ‘&lt;EM&gt;mesti dicat nanti&lt;/EM&gt;’? Jika itu benar, semua ini terasa bagai sebuah lelucon cempulang. Bagaimana pun juga aku takut dan tak berdaya ketika dia dengan gampang menunjuk plat dan memasukkan ke dalam kantongnya SIM dan STNKku: alat yang tepat untuk menguasaiku. &lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Rupanya muridku tadi juga lolos dari pemeriksaan. Dari awal dia tahu bahwa ada masalah dengan motorku. Ketika akan pergi dia melihatku sedang melakukan sesuatu pada plat nomorku dan memutuskan berhenti. Aku ucapkan terima kasih padanya, dan mengutuk diriku sendiri lebih banyak dalam hati. Kini aku berhutang sesuatu pada murid yang tidak begitu kuingat namanya. Dan sebagai seorang guru, menanyakan pada muridnya&lt;EM&gt;apakah ia lolos dari pemeriksaan? &lt;/EM&gt;menggangguku, terutama penggunaan kata &lt;EM&gt;lolos&lt;/EM&gt;. Sepertinya dia melihatku tidak tahu harus berbuat apa. &lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Kubiarkan dia berangkat lebih dulu. Bagaimana pun juga aku tidak ingin muridku melihatku begitu gugup. Cukup sampai di situ saja pengetahuannya tentang keadaanku saat ini. Cukup itu saja yang bisa dia ceritakan pada teman-temannya. Beberapa saat kemudian aku stater motorku. Aku juga tidak ingin berlama-lama di tempat ini.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Sekarang seperti tidak ada yang tersisa dari diriku. Kutanggapi dengan senyum dan anggukan, seseorang yang menegurku dengan ‘&lt;EM&gt;tidak apa-apa, Mas?&lt;/EM&gt;’. Aku merasakan seluruh isi diriku menguap. Hilang entah ke mana. Kakiku masih saja gemetaran. Kaki yang terus bergerak sendiri itu mengalami kesulitan mengendalikan perseneling dan, terutama, rem. Ketakutan terhadap sesuatu tadi tidak bisa hilang begitu saja. Semuanya ini hampir merenggut seluruh tempat dalam diriku, meski tak cukup kuat untuk mencabutnya. Oh, mestinya aku tadi mengisi perutku! Setidaknya masih ada kekuatan untuk mengendalikan saraf-saraf tak sadar dari ketakutanku.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Di tengah itu semua, sebuah kendaraan menyeberang. Dengan seluruh sisa pengendalian atas kaki kananku, aku perintahkan untuk menginjak rem kuat-kuat. Tak dapat dihindarkan. Ban depan motorku menabrak bagian tengah kendaraan yang menyeberang itu, hampir mengenai kaki si pengendara. Beruntung itu hanyalah tabrakan kecil yang tidak menuntut kerusakan apa-apa selain kemarahan spontan si tertabrak.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Pengendara itu melihat bagian motornya sambil mengangkat kaki kirinya, mencari-cari barangkali ada yang rusak. Kemudian dia memandangku tajam-tajam, mengeluarkan kata-kata kasar, dan menyuruhku untuk minggir. Sepertinya dia tidak akan mengalah dengan bunyi bel yang barusan berhenti.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Pada titik ini seharusnya aku marah. Sebab dia menyeberang tanpa memperhatikan pengendara lain. Dia minggir terlebih dulu, turun dari motornya, dan berkata-kata dengan keras sambil berkali-kali mengangkat mukanya. Dia tatap mataku yang menatap tajam-tajam matanya; dia dorong-dorong badanku yang masih berada di atas motor sambil terus mengangkat muka padaku.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Terlambat. Aku masih bisa minum segelas air untuk menenangkan diriku. Tapi bagaimana dalam sekejap mengembalikan keberanian yang terlanjur menguap? Kurasakan nyaliku benar-benar hilang. Tapi demi menyelamatkan diriku sendiri, aku harus meladeni orang itu; aku harus membalas semua yang dilontarkan padaku. Ada sesuatu bergejolak hebat di dalam, rasa jengkel yang kelewat batas, sesuatu yang mirip prustasi. Dan semua yang kuteriakkan padanya, entah bersumber dari mana, membuatku lupa bagaimana seharusnya aku bersikap sebagai seorang lelaki. Keruntuhan dalam diriku yang tiba-tiba mengambil bentuk liar dalam lampiasannya.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Beruntung orang-orang segera datang sebelum terjadi adu pukul. Bila tidak, aku tentu babak belur. Sebab kakiku semakin kehabisan kekuatan setelah teriakan-teriakan tadi. Astaga, mengapa tak bersangkar saja di tubuh yang lebih kuat jiwa lemah ini!&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Sekarang kerumunan itu sudah bubar. Aku tahu perkaranya bisa jadi rumit. Itu aku tahu dari cerita-cerita yang pernah kudengar selama ini. Dan aku tidak punya saudara atau kenalan yang mampu menolong aku dari urusan seperti itu. Aku bukan orang yang, sekaligus dengan bangga, sanggup berkalimat ‘&lt;EM&gt;tidak apa-apa, biar nanti diurus Bapak’ &lt;/EM&gt;dan bagaimana pun variasi kalimat semacam itu. &lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Pengendara tadi meluncur lebih dulu dengan menarik gasnya kuat-kuat. Aku lajukan kendaraanku dengan berusaha santai; waspada siapa tahu orang itu menyanggong di suatu tempat dengan niat buruk. Ya, bisa saja dia masih tidak terima atas luapan belku tadi. Dan seorang guru: babak belur…kenapa tidak kubiarkan motorku menabraknya saja tadi! Dengan begitu jantungku tidak perlu dikejutkan oleh ban yang selip. Aku jadi bisa mengarang cerita yang lebih wajar sebagai lelaki, terutama dari luka-luka yang mungkin kudapat. Dan dengan itu, ketakutanku lebih pantas mendapat tempat untuk sembunyi. Mungkin juga akan tumbuh keberanian…&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Perlahan-lahan talu-talu jantungku mulai teratur. Laju motorku masih 40 km/jam. Aku rasakan diriku sangat lemah. Tidak berdaya menghadapi apa pun. Bahkan seekor serangga saja serasa mampu merobohkan aku. Dan kesadaran ini malah memperpuruk aku dengan pikiran-pikiranku sekarang. Mengapa setelah semua terjadi aku jadi membenci diriku sendiri karena tidak berbuat sebaliknya? Mengapa aku harus merasa seperti anjing, mudah menggedikkan muka kerna ada seseorang yang menyembunyikan tangannya ke belakang? Seolah-olah aku benar-benar akan celaka oleh apa yang tersembunyi di balik punggungnya.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Kini baru sadar bahwa aku menyesal tidak meludahi muka orang-orang tadi. Keadaannya tentu akan lain dengan sekarang jika aku berani melakukan pembelaan yang pantas. Tiba-tiba saja aku ingin melakukan sesuatu terhadap orang-orang itu. Pembalasan dengan diam-diam; teror…&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Aku rasakan kejadian barusan tidak mengembalikan apa pun yang hilang dari diriku. Sebaliknya, malah memperbesar apa yang hilang tadi. Sebuah spanduk melintas di depanku, berwarna kuning, dengan tulisan besar-besar MITRA MASYARAKAT: cukup banyak cerita buruk yang kudengar, bisakah hanya dengan itu membalikkan semuanya?&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Seharusnya orang-orang itu merasa memiliki hutang padaku. Hutang yang sanggup menjaga tingkah mereka terhadap seorang guru seperti aku. Sepertinya memang lebih enak menjadi tentara atau polisi. Meski banyak dicaci dan dibenci, setidaknya orang masih memiliki rasa segan atau takut terhadapnya. Jiwa lemah ini masih mungkin bersembunyi di balik tubuh yang terlatih dan tegap. Dengan itu aku yakin orang tidak mudah menggangguku; tidak akan menunjuk-nunjuk mukaku sambil berkata-kata kasar dan keras, atau melakukan hal-hal yang bagiku tidak berada di dalam akal. Dan dengan itu juga, aku bisa memposisikan diriku sebagai pendebat dari orang-orang yang suka berlaku seenaknya udel, berdiri sebagai seorang lawan yang tegas; antonim dari orang-orang yang suka menakut-nakuti dan mencari-cari salah orang yang memang ditakdirkan tidak bisa mengelak.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Di sebuah warung aku berhenti. Meminta segelas kopi, beberapa batang rokok, dan menyalakannya satu. Bagaimana pun juga aku tidak boleh berkendara dalam keadaan kacau seperti sekarang ini. Lagi pula sekolah tempatku mengajar jam siang tinggal satu kiloan. Belum lagi murid-murid yang menunggu. Nah, sekarang baru kuingat nama muridku tadi; melintas sebuah ruang penuh murid, di mana fokus adalah sorot matanya. Aku tidak boleh terlihat berantakan di depan mereka. Setidaknya nada suaraku jauh dari getaran gugup. Tidak perlu ada guncangan apa pun yang keluar dari dalam. Dan semua yang kuminta dari pewarung, aku rasa cukup.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Masih sebelas seperempat. Apa salahnya terlambat beberapa menit. Warung ini toh agak tersembunyi. Tidak akan ada murid yang lewat di gang kecil ini. Aku keluarkan telpon dan menghubungi seseorang di sekolahan, mengabarkan bahwa motorku mengalami masalah dan akan sedikit terlambat. Dari dalam terdengar suara &lt;EM&gt;halo&lt;/EM&gt;. Sekarang, sebelum berada di depan murid-muridku, aku harus mulai meneraturkan nada suaraku. Tiba-tiba saja melintas perasaan janggal atas kebohongan sebentar lagi.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Surabaya, 02 September 2007&lt;/P&gt;&lt;/DIV&gt;</description>
            <pubDate>Sun, 15 Nov 2009 05:08:10 +0100</pubDate>
        </item>
        <item>
            <title>Tamasya Sebelum Pulang</title>
            <link>http://mysholichin.yolasite.com/library/library/tamasya-sebelum-pulang</link>
            <description>&lt;DIV class=entry&gt; 
&lt;P&gt;Aku berjalan menyusuri gang panjang dan berliku dari rumah tuaku menuju jalan raya, hendak menemui seseorang dari masa lalu. Sebenarnya bukan hendak menemui tapi hanya sekedar lewat depan toko keluarganya yang di pinggir jalan raya untuk melihat dia sedang menjaga toko atau tidak. Namun orang yang dimaksud tak ada di tempat rupanya. Kecewa aku tak melihat wajah pujaan hati. Padahal liburan sudah hampir usai. Sepertinya aku tak akan lihat wajahnya lagi untuk beberapa bulan ke depan. Kuliah padat menantiku di Bogor. Jadi aku meneruskan jalanku. Berhenti sejenak, berpikir mau kemana aku sekarang. Kulihat ke belakang ke jalan menuju stasiun kereta. Stasiun satu-satunya yang masih beroperasi di kota asalku ini, Stasiun Leles.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Di sepanjang jalan aku melihat kiri kanan. Tak banyak berubah. Masih ada tukang cukur yang dulu pernah beberapa kali kupotong rambut di sana. Masih ada toko yang sering kubeli arang di situ. Aku ingat ibu gendut yang menjaga toko, tapi tak kulihat dia hari ini. Kulangkahkan kakiku terus ke depan. Beberapa meter di depanku stasiun yang kutuju. Tepat di sebelah kananku sekarang adalah kantor pos tua. Aku ingat beberapa kali aku pernah mengirim surat dan menabung juga di kantor pos ini.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Aku tak jadi masuk stasiun. Gerbang belakang dikunci dan malas juga masuk lewat gerbang depan karena ramai anak-anak bermain di situ. Rupanya ada yang berubah. Sekarang sudah ada tempat penumpang menunggu kereta yang dibuat dari semen yang tingginya disesuaikan dengan tinggi pintu kereta sehingga orang tak perlu bersusah payah jika ingin naik kereta. Aku ingat betapa susahnya dulu jika ingin menaiki kereta. Butuh orang lain untuk membantu naik.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Tak jadi ke stasiun, aku belokan saja diriku ke arah rel kereta. Sudah lama sekali aku tak berjalan di atas batu-batu koral rel kereta api. Hujan baru reda jadi jalanan agak becek ditambah lagi sandal capit tipisku yang membuat air genangan merembes dan membuat batu koralnya terasa sekali ditelapak kaki bahkan sedikit agak sakit. Namun rasa sakitnya terbayar oleh kenangan masa kecil yang kembali memenuhi kepalaku. Ternyata perjalanan tanpa rencana memang lebih menarik dan berkesan.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Stasiun dan rel kereta api merupakan salah satu tempat bermain favoritku dulu waktu kecil. Bermain perosotan di dekat stasiun atau menangkap capung yang menempel di kawat baja di samping rel kereta. Capung ditangkap dengan cara dijepit menggunakan kawat baja, sebelah kiri atau kanan kawat baja yang dihinggapi capung. Aku cukup ahli melakukannya.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Pandanganku dimanjakan oleh hamparan sawah hijau membentang luas di sebelah kiriku. Gunung menjulang tinggi di kejauhan. Sejauh mata memandang semuanya hijau. Kuhirup udara sore sebanyak yang aku bisa. Udaranya bersih dan segar. Rasanya tak ingin kembali ke kota dimana udara bersih sangat langka dan warna hijau seringnya hanya didapat dari warna angkot (angkutan umum) nomor 02 atau 03.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Aku berjalan pelan-pelan karena tak ingin cepat sampai di gapura pintu masuk kampungku RT 03 yang tinggal beberapa meter di depan. Nampak di depanku sekarang adalah beberapa pemuda dari kampungku yang sedang memancing belut di sawah entah punya siapa. Ada seorang yang bermain gitar di undakan semen di sebelah sawah. Setelah kuamati ternyata dia tetanggaku yang seumuran denganku. Karena tak begitu akrab, jadi aku tetap berdiri jauh dari mereka sambil terus menonton pertunjukan. Aku jadi ingat bahwa seumur hidup aku belum pernah memancing belut. Aku juga tak pernah berniat melakukannya.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Sudah cukup lama aku mengamati mereka. Beberapa orang melihat kepadaku namun tak ada yang menyapa. Aku memang tak akrab dengan orang-orang ini walaupun aku tahu nama mereka satu per satu. Rasanya sudah cukup tamasyaku mengenang masa kecil. Aku berjalan menuju gapura.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Di depanku ada seorang gadis yang sepertinya kukenal. Dia berjalan ke arahku, semakin mendekat. Tentu saja, dia teman SMP-ku dan teman mengajiku dulu. Aku tahu dia melihat kepadaku namun dia langsung menoleh ke arah lain, mengamati sesuatu yang kutahu itu tak ada. Sambil berjalan aku melihatnya terus namun dia tetap melihat ke arah lain. Dia memang tak ingin atau mungkin sedang malas menyapaku. Padahal beberapa bulan lalu kami berpapasan, kami saling menyapa seperti biasa.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Aku berbelok ke kiri. Seperti sudah direncanakan, di depan berjalan ke arahku adalah guru ngajiku. Bapak Jenal Muttaqin, aku ingat betul namanya. Aku semakin dekat ke arahnya aku sudah bersiap tersenyum untuk menyapanya. Namun dia malah berbelok ke kiri padahal aku merasa dia melihatku berjalan ke arahnya. Dia berbelok masuk ke rumah salah satu tetangga. Aku mulai penasaran kenapa dengan semua orang di kampungku ini.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Apakah dunia ini telah berubah? Apakah bertegur sapa adalah hal sulit untuk dilakukan sekarang ini? Mereka semua berubah! Atau mereka tak melihatku? Apa aku tak terlihat?&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Aku memutuskan akan memastikannya dengan bercermin di kaca gerobak bakso tetangga yang terletak beberapa langkah lagi di depan. Sayang sekali, ternyata gerobak basonya sudah tak berada disitu lagi. Sepertinya krisis ekonomi tak berpihak pada usahanya jualan bakso. Kupikir lagi, bodoh sekali rasanya jika aku harus bercermin di kaca gerobak bakso untuk melihat bayanganku ada atau tidak. Aku tersenyum malu dengan ide bodohku itu.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Rumahku sudah dekat, tinggal beberapa meter lagi. Tamasya singkatku mengelilingi kampung cukup melelahkan namun lebih banyak kesenangannya. Lima belas menit hidupku aku isi dengan kenangan-kenangan indah masa lalu yang tak bisa kubeli di toserba manapun. Agak berat kulangkahkan kaki ini menuju rumahku sendiri. Enggan pulang, inginnya aku terus bertamasya di duniaku yang tak kenal duka, dunia masa kecilku.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Namun tetap saja kuseret kaki ini menuju rumah. Akhirnya teras lantai dua rumahku sudah terlihat, lantai satunya terhalang oleh tembok tinggi rumah tetangga. Beberapa langkah lagi aku tiba. Kembali ke rumah atau tepatnya kembali ke kenyataan hidup, masalah di depan mata.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;“Dari mana saja?!”&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Seorang tetangga dari arah belakangku bertanya, agak berteriak. Aku menoleh, ternyata Pak Jaja.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;“Pulang tamasya, Pak Jaja. Biasa saja dong gak perlu teriak.”&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Aku sedikit kesal dengan tetanggaku ini. Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba menghardikku begitu saja.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;“Gimana sih kamu ini, Sep! Semua orang nunggu dari tadi! Harus cepat diurus ini.”&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Sep? Siapa maksudnya?&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Aku menengok ke belakang, ke arah pandangan Pak Jaja tertuju. Oh! Pak Jaja ternyata bukan bicara padaku, tapi orang yang ada agak jauh di belakangku, si Asep, anak Pak Jenal guru ngajiku itu. Asep setengah berlari menghampiri orang yang meneriakinya barusan.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Pak Jaja juga berjalan menghampiri Asep. Kenapa semua orang begitu panik? Asep pun berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal untuk mencoba menjawab kekesalan Pak Jaja.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;“Maaf Pak Jaja! Tadi kunci mesjidnya lupa naruhnya di mana.”&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;“Kamu ini! Bapak kamu sudah dikasih tahu? Semuanya sudah siap?”&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;“Sudah, sudah! Bapak sudah saya beri tahu. Sekarang Bapak lagi ke rumah Pak Endi, pinjam selang. Nah! Itu Bapak bawa selang.”&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Aku dan Pak Jaja menoleh ke belakang bersamaan. Pak Jenal berjalan tergesa-gesa ke arah kami.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;“Sudah siap kan semuanya?”&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;“Sudah Pak!” Asep dan Pak Jaja menjawab serentak.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Pak Jenal melihat ke arahku dengan pandangan aneh. Aku tak memperdulikannya dan juga tak menyapanya. Aku masih tersinggung karena diabaikannya tadi saat berpapasan di depan rumah Pak Endi. Mereka bertiga sekarang kompak meninggalkanku begitu saja, pergi ke arah rumahku yang bagian depan. Lalu masuk ke dalam rumah. Mereka masuk ke dalam rumahku?Mau apa mereka?&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Aku mengikuti mereka dengan tergesa. Aku lihat di ruang tamu banyak orang berkerumun. Banyak diantaranya yang mengenakan pakaian hitam. Entah kenapa perasaanku tak enak. Dan entah kenapa pikiranku hanya tertuju pada satu orang, bapakku.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Na’udzubillahimindaliq. Dalam hati aku berucap beribu kali. Bapak sudah renta, sudah sering sakit-sakitan. Ketakutanku selama ini adalah jika Allah memutuskan sudah saatnya bagi Bapak beristirahat dari segala lelah deritanya.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Aku takut. Aku tak berani masuk. Aku menunggu cukup lama di luar rumah, tak berani masuk. Orang-orang berbaju hitam makin banyak menghampiri rumahku. Air mataku meleleh. Kenapa harus sekarang ya Allah? Impianku untuk mengajak Bapak saat wisudaku tak bisakah Engkau kabulkan?&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Astagfirullah. Aku beristigfar sebanyak aku bisa karena tak selayaknya aku meragukan kemampuan Dia Sang Maha Kuasa. Cukup! Aku membentak diriku sendiri. Aku akan masuk ke dalam rumah.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Di depan pintu ruang tamu aku melihat sosok kaku, terbujur mati di depan mataku. Aku tak tahan lagi menahan tangis. Semua mata pelayat tertuju pada mayat bisu di tengah ruang tamu. Tak sedikit di antara mereka yang menunduk terisak.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Aku berjalan lemas mendekati jenazah bapakku. Semua orang tak ada yang menegur atau sekedar menepuk-nepuk pundakku sebagai tanda empati. Semua sibuk dengan kesedihan masing-masing. Aku teringat ibuku. Sekarang Bapak sudah kembali bertemu dengan kekasih sejatinya, pikirku. Aku duduk di sebelah jenazah Bapak. Tak sanggup aku menyibak kain penutup wajahnya.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Seorang lagi pelayat datang histeris. Ternyata bibiku, adik dari Bapak. Dia menghampiri Bapak lalu duduk lama menunduk, mencoba menghentikan tangisnya. Dia tak melihatku atau entah bagaimana, tapi aku mulai merasa aneh dengan seluruh penghuni ruang tamu ini. Apa kalian tak memperdulikanku?!&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Akhirnya dia gerakkan tangannya, menyibak penutup wajah yang enggan kubuka tadi perlahan. Aku menunduk tak mau melihat.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;“Rizal! Rizal!” Bibiku meraung memanggil namaku.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Aku mengangkat kepalaku ingin menjawab panggilan bibiku. Namun tak ada daya untuk mengucapkan sepatah kata, setelah kulihat wajah jenazah di hadapanku ini. Wajahku sendiri.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Apa ini? Apa maksud semua ini? Tuhan mempermainkanku? Aku harus segera bangun dari mimpi ini. Aku tak suka mimpi seperti ini.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Aku coba menarik diriku dari alam mimpi dengan memejamkan mata sekuat tenaga sambil memerintahkan otakku untuk membangunkan ragaku.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Bangun! Bangun! Bangun! Bangun!&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Kubuka mataku. Tak ada foto yang biasa kulihat di depanku, jika aku bangun tidur. Foto yang kupasang di dinding, tepat di hadapan ranjangku. Fotoku dan kedua orang tuaku. Alih-alih foto itu, wajah pucat pasi yang kulihat dihadapanku. Wajah jenazahku.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;“Rizal! Rizal!” Bibiku meraung semakin keras.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Seorang pelayat menenangkannya dan menyeretnya mundur dari jasadku.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;“Dimana Kang Ipul?” Sekarang Bibi menanyakan keberadaan bapakku.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;“Di kamar. Dari tadi tak sadarkan diri. Bi Nana yang menjaga.”&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Pantas tak kulihat dimana Bapak. Orang yang kukira sudah tak ada sekarang tak jauh beda keadaannya denganku. Sedang tak sadarkan diri, bedanya aku tak akan pernah sadar kembali.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Aku melihat wajahku kembali. Entah mengapa aku merasa melihat wajah penuh kedamaian. Kedamaian yang kurasakan terakhir kali sebelum aku mati. Aku teringat tamasya singkatku berkeliling kampung beberapa saat tadi. Andai saja gerobak bakso itu ada. Setidaknya aku akan tahu lebih cepat. Lucu. Aku tersenyum menertawakan diriku sendiri.&lt;/P&gt; 
&lt;P&gt;Kini aku tahu. Tak ada yang berubah. Mereka tak berubah. Akulah yang berubah.&lt;/P&gt;&lt;/DIV&gt;</description>
            <pubDate>Sun, 15 Nov 2009 05:00:06 +0100</pubDate>
        </item>
        <item>
            <title>Bagaimana kau akan tahu</title>
            <link>http://mysholichin.yolasite.com/library/library/bagaimana-kau-akan-tahu</link>
            <description>&lt;SPAN style=&quot;FONT-SIZE: 100%&quot;&gt;Bagaimana kau akan tahu&lt;BR&gt;Segala perasaan yang membebaniku&lt;BR&gt;Sedang jarak memisahkan aku denganmu&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Bagaimana kau akan tahu&lt;BR&gt;Bahwa aku disini begitu mengingatmu&lt;BR&gt;Sedang kita tak pernah berkata.&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Bagaimana kau akan tahu&lt;BR&gt;Hatiku tak mampu berpaling&lt;BR&gt;Sedang dirimu selalu merasa ragu&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Bagaimana....&lt;/SPAN&gt;</description>
            <pubDate>Sun, 15 Nov 2009 04:51:33 +0100</pubDate>
        </item>
        <item>
            <title>Tanpa Judul</title>
            <link>http://mysholichin.yolasite.com/library/library/tanpa-judul</link>
            <description>&lt;STRONG&gt;&lt;FONT color=#004040&gt;Maaf saya tidak dapat menemukan judul yang tepat&lt;BR&gt;untuk untaian kalimat yang hendak saya tulis&lt;BR&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; hari-hariku dipenuhi oleh suara-suara tak bergetar seperti kemarin ....&lt;BR&gt;getaran itu semakin lama semakin sayup... perlahan&lt;BR&gt;getaran itu melemah dan berhenti&lt;BR&gt;seperti denyut nadi anak-anak ingusan&lt;BR&gt;tak terdengar mereka oleh gesekan angin&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Jika demokrasi adalah judul terindah bagi suatu bangsa&lt;BR&gt;maka bangsaku hendak menggunakannya pula&lt;BR&gt;mereka mengorbankan jiwa dengan sukarela atau dengan pesan&lt;BR&gt;mereka sama-sama berdarah dan bahkan hilang oleh dahaga tanah&lt;BR&gt;aliran sari-sari makanan kebebasan tak pernah sampai&lt;BR&gt;tersebar ke seluruh tubuh&lt;BR&gt;berhenti mereka di antara lembaran-lembaran kertas berstempel&lt;BR&gt;&lt;BR&gt;Maaf jika hidupku adalah demokrasi&lt;BR&gt;nampaknya ia tak punya judul lagi&lt;BR&gt;kadang saya merasa sangat berharga dan ingin hidup&lt;BR&gt;seperti jiwa Chairil Anwar&lt;BR&gt;namun kadang saya menemukan ketidakbernilaian&lt;BR&gt;yang mendorongku untuk mengakhiri hidup&lt;BR&gt;the object of my affection telah mati&lt;BR&gt;bersama judul tulisan-tulisan tentang demokrasi yang semakin kabur&lt;/FONT&gt;&lt;/STRONG&gt;</description>
            <pubDate>Sun, 15 Nov 2009 04:46:58 +0100</pubDate>
        </item>
    </channel>
</rss>
